Sudah hampir akhir Ramadhan. Kalau dievaluasi seperti IPM, semua nilai saya di Ramadhan ini need improvement; kalau IPK paling cuma satu koma; kalau nilai rapor pasti banyak merah nyo. Gak ada bagus-bagusnya blas. Mungkin saya termasuk orang yang puasa ne cuma ndapat haus dan lapar, plus kepala pusing.

Sekali-kali nya datang ceramah tarawih saya cuma ngedumel-dumel kecil dalam hati kok yang dibahas ini lagii ini lagiii. Bosan. Sambil browing kaskus, ceramah tarawih cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Tapi jika saya renungi lagi, beruntung lah karena yang dibahas cuma itu-itu saja saya jadi hapal: tentang esensi puasa yang bukan lah cuma menahan haus dan lapar. Puasa seperti training center untuk hidup ikhlas, menahan emosi, tolong menolong menjadikan dunia sebagai tempat hidup yang lebih baik untuk semua.

Dari awal saya sudah salah berharap pada makhluk Tuhan.
Saya bekerja berharap kerjaan saya dilihat, dipuji lalu naik gaji
Saya ke mesjid berharap bisa ketemu jodoh anak pak Haji saya juga sudah pasang ring back tone Tombo Ati
Saya datang ke Masjid Pondok Indah berharap masuk tipi.
Saya memberi kepada orang miskin dengan tinggi hati.
Saya sudah salah asuhan.
Saya lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Semakin banyak saya memberi semakin banyak saya berharap kembali. Tanpa saya sadari setiap saya memberi saya hanya akan menambah kekecewaan saja nantinya.

Begitulah, prinsip dasar puasa yang diulang-ulang setiap ceramah saja saya belum paham. Gimana mau lanjut ngebahas yang lain. I think I have been misled.

And people tend to regret something they have lost.
I have lost a lot. I mean A LOT… I don’t know how to get them back.
I can’t change the past, but I hope am sure I will get better.
Karena itu walaupun saya elek-elekan dalam puasa kali ini, saya tetap memohon untuk diluluskan. Doakan saya.