alah makan?
alah mandi?
lalok lah lai…
jago lah lai…
antah heh! lalok ka lalok se karajo
alah sembayang?
jago lah katiko adzan subuah tu
kamehan lah rumah ko ha
kamehan kain di sampiang, hari ka hujan
Ungkapan khas nenek umi waktu aku masih tinggal bersama nya. Kadang semua ucapan nenek terdengar begitu mengesalkan buat ku karena mengganggu keasyikan ku membaca komik Dragon Ball atau menonton Ksatria Baja Hitam di RCTI.
Sekali-kali kau bisa dengar aku berdecak kesal.. “ck.. ah!”
Cukup pelan aku yakin, tak akan terdengar oleh nenek. Tentu saja aku tak mau dianggap anak durhaka oleh nenek karena berdecak kesal pada nya.
Ingat betul aku waktu itu kelas 3 SD, di rumah di Suka Berenang. Setelah berkelahi dengan si uda, aku menangis meraung-raung. Nenek berusaha menenangkan ku, memegang kedua tangan ku dari depan, seakan-akan ingin berkata “jadi laki-laki jangan cengeng”. Aku meronta-ronta, menangis semakin jadi, tanpa kusadari kaki ku naik menendang nenek. Tidak keras memang, tapi sudah sangat sangat keras untuk menyakiti hati nenek. Ampuni ya Tuhan.. cucu durhaka macam apa yang telah dibesarkan nya ini.
Itu pertama aku melihat nenek menangis.
Kemarin siang aku ke tempat nenek. Nenek sudah 3 hari susah makan, kata tante. Tidur nya pun gak bangun-bangun. Aku duduk di samping nenek yang tertidur. Biasanya begitu jemari tangan nya kugenggam nenek akan balas menggenggam kuat, sangat kuat, sambil membuka mata nya melihat kepada ku.
Kadang nenek bercerita tentang orang-orang atau kejadian apa yang entah aku sedikitpun tak mengerti.
Tapi kemarin tidak.
Tangan nenek lemas. matanya terus terpejam. Kubelai-belai kepalanya, ku kecup keningnya, sambil ku bisikkan kata-kata ke telinga nya, tetap tak ada respons.
Tak satu kata pun, tak sekedip pun nenek membuka mata. Hanya nafas nenek yang terdengar berat.
Entah kenapa aku menangis.
Nenek sudah lupa sama aku beberapa bulan terakhir. Pikun mungkin. Kadang nenek bertanya “sia ko?’ kadang nenek cuma melihat dengan tatapan orang asing. Aku pun terbiasa bercerita tentang diriku pada nenek. tak mengapa kataku. sedih, tapi tak mengapa. aku makin sayang malahan.
Kemarin aku sudah siap mau bercerita lagi sama nenek. Tapi nenek sepertinya tidak siap.
ah, bodo’ ah. aku tetap mau cerita. “nek ko ian nek, cucu nenek. lai takana dek nenek?”
dan biasanya nenek akan merespon “oo, iyo.. bilo tibo? lah lamo di siko?”
Tapi kemarin nenek tetap diam…
diam-diam aku menangis lagi.
Aku tatap wajah nenek yang semakin kurus.. aku lihat diantara kelopak mata nya yang tertutup, terdapat genangan air mata…
Aku rasa nenek menangis..
Untuk kedua kali nya… di depan aku..
Sore menjelang magrib, di pangkuan aku dan si uda, sambil disuapi tante, nenek dipanggil Allah.
Innalillahi wa inna ilaihirajiun..
Selamat Jalan Nenek.
Ampuni aku, nek.
Cucu nenek ini akan berusaha agar doa nya untuk nenek bisa diterima.
…
Innalillahi wa inna Ilaihi rajiun…
semoga amal sholeh nenek diterima di sisi-Nya
Amin
Comment by dzaia-bs — 14 April 2009 @ 10:51 pm
amiin…
thanks doa nya, Jay…
Comment by Administrator — 16 April 2009 @ 4:56 am