Review: Travels, Michael Crichton
Michael Crichton terkenal karena buku fiction, e.g. Jurassic Park, The Terminal Man, The Lost World, TImeline, etc.
Tapi buku nya yang ini bukan fiction, lebih semacam otobiografi. Catatan perjalan hidup nya dan halhal yang terjadi dalam hidup nya.

Pada bagian awal Michael menceritakan tentang masa sekolah di Medical School. Juga tentang kenapa dia keluar dari dunia kedokteran.
Lucu, penuh kenangan, berdarahdarah, dalam sudut pandangan dia. Bagian ini juga membuat saya terkenangkenang lagi dengan masa sekolah saya yang berlalu belum terlalu lama. Kangen euy!
Keluar dari Med School mungkin diaggap bego, gila. Atau paling buruk dianggap cemen, gak mampu bersaing. Med school nya salah satu yang terbaik di dunia: Harvard, tapi itu bukan yang dia ingin lakukan dalam hidup. Dia tak peduli apa kata orang (bukan dengan nada sombong, setelah dia sukses di Hollywood dengan buku, script dan film nya)
Untung lah ternyata dia keluar dari Medical School nya, kalau tidak belum tentu saya bisa punya buku seperti ini, dan belum tentu ada Jurassic Park =D
Lalu bagian kedua buku ini tak kalah seru. Tentang bagaimana dia memulai petualangan nya. Setelah SEMUA yang didapatnya dalam hidup, pertanyaannya adalah selanjutnya apa?
Tema umum, pencarian jati diri. Hampir semua orang menjalaninya, tapi tentu saja dari titik awal dan sudut pandang yang berbeda.
Dalam buku ini, bagi Michael Crichton titik awal nya saat itu adalah saat dia memutuskan untuk bertualang.
Dimulai lah cerita petualangan nya ke berbagai belahan dunia. Mendaki Kilimanjaro, ketemu gajah ngamuk di Malaysia, menyelam di Carribean, dan lain2. Walaupun dalam beberapa cerita seperti nya sudah tidak terlalu relevan lagi dengan tahun sekarang, (perjalannya terjadi tahun 1971-1986), ada beberapa tempat yang dia ceritakan di buku saya coba kunjungin ternyata sudah berubah, tapi yang terpenting dari cerita nya adalah tentang “Journey to his inner self “.
Saya suka gaya menulisnya dengan banyak humor yang self-deprecating (mengutuk diri sendiri). Seperti monolog dengan diri sendiri, yang saya lakukan 100 juta kali sehari, mungkin.
In conclusion, buku ini cukup membantu saya yang sedang berusaha menjadi open-minded pragmatist daripada sceptic.
Great writer, great story, good to know who he is.