Brian

Tennis things13 October 2006 5:05 pm

My favourite tennis player was Andy Roddick. Yes, it was. and now he wasn’t anymore. Roddick showed unconsistency in his playing. He kept losing from world no.1 player Roger Federer. His performance goes down and loses several matches since he focused too much on defeting Federer. Roddick relied too much on his explosive serves and powerful forehand. At first those will impress you. But his style of play needs good stamina since he hits all kinds of stroke with very much spin. My other dislike is that Roddick lacks diversity and aggression on his backhand side and relies too much on his forehand. That makes me feel like “This is not my favourite anymore.”

Then come Roger Federer, a Switzerland. Federer employs a versatile, all-court playing style and can hit all of the fundamental shots very well. He is an adept volleyer with two of the finest hands on tour, and an excellent baseliner who can dictate play with precise groundstrokes. He also uses one handed backhand -Like I do ^__^-.

Federer tends to hit his groundstrokes early after the bounce, while the ball is still on the rise, much like Agassi did. While this requires excellent reactions and footwork, it means that Federer hits his groundstrokes closer to the net than most of his opponents. This reduces the reaction time of his opponents and allows him to hit the sharply angled winners that are a trademark of his game.

But I don’t really like him anyway. Why? because he is too calm. Yes, just like zombie, no expression of satisfaction after hitting a winner or winning a match. Destpite of his excellent cool calm playing style I would call him boring. huhuhu… I read somewhere that as a boy, Roger was very emotional on the court. He admits to being kicked off the practice courts very often.

Then I see Rafael Nadal. A young player with “construction worker arms” referring to his sleeveless shirts which show his big biceps. Huhuhu… He is younger than me. He was born on 1986. And now he is the fiercest rival to world no. 1 Roger Federer. Only Nadal who can beat Federer consistently. Nadal is Famous to be ‘clay court specialist’. He hold the record for clay court winning streak for 62 matches. One overlooked aspect of his game is his stamina. This is compounded by the fact that opponents will often run and serve much more than him during a game. Just like Roddick, he hits all balls with such a spin that requires a lot of power. His top spin forehand is somehow I see have more spin than Roddick’s. I read his biography telling that although Nadal plays left-handed, he is naturally right-handed. When he was younger, his coach decided that his two-handed backhand would benefit from a strong right arm, so he taught Rafael to play with his left. I also read that Maria Sharapova did this too, she was actually lefty but now plays right handed. Once she plays her WTA tour with her left hand.

So now, I don’t really have a favourite player. But those three players are great. I would certainly come to watch they play someday.

Thanks for reading. Huhuhu… gak penting ginih tulisan…
Daripada nothing mending gak penting  quoted from Achai

My Life, My Love dan My journey 3:25 pm

Enjoy, life is not always good

My Life, My Love dan My journey10 October 2006 2:10 pm

makin dekat tanggal mudik, makin homesick rasanya
huhu… walopun kalo udah di rumah sehari juga udah ilang kangennya. malah bisa-bisa gua yang jadi kesel gara-gara frequently asked questions yang sekarang jadi makin gencar dilontarkan oleh papa mama and the gang
those FAQs are:
1. kapan lulus?
2. mau kerja dimana?
3. kapan nikah? –> the hardest question, huhu… gara-gara sepupu2 pada nikah cepet

My Life, My Love dan My journey8 October 2006 5:03 pm

huhu…
dicopy langsung dari detik.com:

Kontroversi Akses Lokal Dengan Mobilitas Tanpa Batas
Penulis: Achmad Rouzni Noor II - detikInet
FlexiCombo versi lama (Telkom)
Jakarta, Belum lewat dari sehari FlexiCombo versi baru resmi diluncurkan beberapa waktu lalu, beragam kontroversi akan kehadiran layanan itu langsung mencuat. Bagaimana tidak, layanan yang ditawarkan bisa dibilang berkemampuan mirip seluler, dalam artian bisa dibawa ke mana-mana.

Padahal, Flexi milik Telkom hanya diberi izin untuk menggelar layanan telepon tetap nirkabel dalam cakupan mobilitas terbatas. Artinya, pelanggan mestinya hanya bisa berkomunikasi dalam satu kode area saja. Di luar itu, segala fitur telekomunikasi (seharusnya) tak bisa berfungsi.

Bila merujuk pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2004, jika satu nomor bisa dipakai ke mana-mana, maka layanan fixed wireless access (FWA) tersebut dianggap melanggar aturan. Namun, Telkom jeli melihat kelemahan regulasi di atas. Dibuatlah satu inovasi yang kontroversial, yang diklaim tetap berpegangan pada regulasi.

FlexiCombo baru pun dilahirkan, versi yang lebih mudah dari yang sebelumnya. Tak harus mengganti kartu, hanya dengan cara mendaftar lewat SMS. Maka, hadirlah FWA antarkota yang fleksibel dan bisa digunakan di kota dan kode area mana saja layaknya seluler, namun memakai nomor yang berbeda-beda secara temporer dengan satu nomor induk.

Namun demikian, kontroversi dan polemik akan layanan tersebut tetap mencuat. Dipanggil-lah para direksi BUMN telekomunikasi itu untuk dimintai keterangan. Awalnya, mereka bersikukuh tak ada pelanggaran.

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia yang melakukan investigasi akhirnya menemukan sejumlah penyimpangan, seperti adanya tiga nomor aktif sekaligus dalam satu waktu dan di luar kode area nomor induk. Lainnya, aktivasi call forwarding hanya bisa dilakukan di satu kode area. Telkom pun akhirnya mengakui kesalahan tersebut dan berjanji akan memperbaikinya.

Namun di luar itu semua, layanan tersebut tetap diperkenankan pemerintah untuk jalan terus. Karena, FlexiCombo bukanlah seluler dan tidak memiliki kemampuan roaming. Layanan juga diakui sebagai bentuk inovasi di bidang telekomunikasi.

Mungkin Bermanfaat

Dalam layanan FlexiCombo, setelah mendapatkan nomor temporer di kota tujuan, pelanggan tetap bisa menerima panggilan telepon ke nomor kota asal karena ada fasilitas call forwarding. Pelanggan tersebut akan dikenai biaya Rp 500 per menitnya untuk penerusan panggilan (call forwarding) saat menerima panggilan.

Memang, banyak keluhan tentang mahalnya tarif penerusan panggilan bila dibandingkan penerimaan panggilan biasa pada SLJJ (sambungan langsung jarak jauh). Serta, masalah penggunaan nomor temporer yang belum optimal dan sinyal yang masih belum begitu lancar.

Namun, bagi pengguna yang hanya menggunakan satu nomor layanan Flexi dan hanya punya satu ponsel berkemampuan CDMA, layanan tersebut bisa jadi sangat bermanfaat.

Terlepas dari itu semua, laku atau tidaknya inovasi layanan tersebut, berpulang lagi pada pelanggan. Namun yang pasti, Telkom sudah diuntungkan sejak awal karena mendapatkan publikasi gratis gara-gara fenomena dan kontroversinya.

Satu hal lagi, setiap inovasi yang berorientasi demi kepentingan publik, semestinya terus didukung, bukan dikukung atau dikurung. (rou)

GSM jadi makin gak populer, mahal = gak populer…
huhu…
salah satu alasan kenapa Hermana ama Vian selalu bilang pengen beli hp CDMA

My Life, My Love dan My journey 3:34 pm

huhuhu… sudah berbulan-bulan blog ini tidak diupdate…

Karena cuma saya yang bisa mengupdate nya –> untuk “who” nya
Sejak saya mulai mengerjakan tugas akhir secara serius sampai hari ini, beberapa hari setelah saya sidang –> untuk “when” nya
Karena saya sibuk dan malas –> untuk “why” nya, sebenarnya dua alasan ini mempunyai bentuk sebab akibat, saya sibuk sehingga saya malas mengupdate ini… huhu…
sekarang saya jadi malas juga sok-sok an melakukan analisi 5 W 1 H untuk keadaan blog saya yang terlantar ini. maafkan blog ku…

sekarang adalah waktunya memikirkan masa depan secara serius.
what will I be 5 years from now?
saya sendiri punya harapan, juga mama, papa dan orang-orang terdekat sepertinya juga punya harapan tertentu. bisa kah saya memenuhi harapan mereka? I’ll try my best. semoga saya tidak mengecewakan mereka dan juga tidak mengecewakan diri saya sendiri.
saya selalu ingat kata papa: “manusia berusaha, Tuhan yang menentukan”
kalimat itu membuat ku berkesimpulan: yang terpenting adalah tidak ada penyesalan atas kurangnya usaha dalam pencapaian tujuan dalam hidup. huhu… malas bukanlah alasan, wake up! seize the day!!