I was at my lab when I saw my friend watching TV with bad reception. The picture on the TV was not clear at all, not making an appropriate figure of someone or something. It surely could cause a sore eyes.
But why did he still watching that TV? Maybe because he was already in his best position, lying down on matress in front of the TV with pillows on his head, and he thaught that if he move he wouldn’t get that cozy position again. wahaha… So, position when watching TV is more important than the TV itself. The TV’s antenna is indoor antenna, placed above the TV, not an outdoor antenna.
Thinking about that, lead me to the condition which is called “post power syndrome”. I don’t say that what my friend is doing above is one of that, it is just a kind of lazyness. Post power syndrome is more like you don’t want to handover the power you have because of your position to other people who replace your position.
I am in my last year in my college year now, is it a post power syndrome to have a feeling don’t-want-to-leave-this-university?
hahaha.. of course not.

FAQ:

Q: Sebenarnya apa yang dimaksud dengan post power syndrome itu?

A: Arti dari “syndrome” itu adalah kumpulan gejala. “Power” adalah
kekuasaan. Jadi, terjemahan dari post power syndrome kira-kira
adalah gejala-gejala pasca kekuasaan. Gejala ini umumnya terjadi
pada orang-orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau menjabat
satu jabatan, namun ketika sudah tidak menjabat lagi, seketika
itu terlihat gejala-gejala kejiwaan atau emosi yang kurang
stabil. Gejala-gejala itu biasanya bersifat negatif, itulah yang
diartikan post power syndrome.
—–
Q: Kumpulan dari gejala-gejala apa sajakah syndrome itu?

A: Bisa dibagi menjadi beberapa gejala:
1. Gejala fisik, misalnya orang-orang yang mengalami post power
syndrome, kadangkala tampak menjadi jauh lebih cepat tua
dibanding pada waktu dia menjabat. Tiba-tiba rambutnya menjadi
putih semua, berkeriput, menjadi pemurung, dan mungkin juga
sakit-sakitan, menjadi lemah tubuhnya.
2. Gejala emosi, misalnya cepat tersinggung, merasa tidak
berharga, ingin menarik diri dari lingkungan pergaulan, ingin
bersembunyi dan sebagainya.
3. Gejala perilaku, misalnya malu bertemu dengan orang lain,
lebih mudah melakukan pola-pola kekerasan atau menunjukkan
kemarahan baik di rumah atau di tempat yang lain.