Brian

My Life, My Love dan My journey14 July 2008 6:19 am

Apa buah-buahan paporit lu? Kalo gua nomer satu nya mangga, nomer dua pisang, nomer tiga apple.
Walopun nomer satu nya mangga, tapi kali ini gua gak akan bahas tentang mangga karena… males.
Haha, corny excuse.
Gini, selain pake prinsip save the best for the last, menurut gua buah mangga udah terlalu terkenal. Buah apa coba yang dijadiin nama halte busway (mangga besar), buah apa juga yang dijadiin nama tempat belanja (mangga dua), buah apa yang udah jadi merk baju terkenal (mango), buah apa yang dijadiin komik (manga), buah apa yang jadi kebutuhan pokok (mangan). I can not imagine a day without mangga.

Jadi cerita sekarang adalah tentang pisang, bukan mangga, bukan juga tentang apple, buah nomer 3 gua. kenapa bukan ? soalnya masih sakit hati gak kebagian iphone 3G edisi perdana, yang ada masa harganya udah dinaikin 2 kali lipat, cih.
(Apple dan steve job rock, distributor not)

Pisang ada macem-macem. Ada pisang ambon, pisang kecil (yang kecil2 sekali lahap langsung abis), pisang cavendish yang banyak dijual di moll, pisang mas, pisang batu, pisang kepok, dll. Beda pisang beda cara penggunannya. Ada pisang yang bisa dikonsumsi langsung. Ada juga jenis pisang yang harus diolah dulu sebelum bisa dikonsumsi. Contoh makanan hasil olahan dari pisang: banana split, banana kayang, dan banana tiger sprong (oke oke, I just made it up). Contoh yang lebih nyata: keripik pisang asal lampung, sale pisang dari bandung, pisang molen bogor, es pisang ijo makasar, dan the famous pisang goreng.

Dari kesemua pisang ini favorit gua adalah pisang cavendish, pisang yang paling banyak dijual di moll. Biasanya merk dagangnnya pisang sunpride. Pisang ini paling enak kalau didinginkan dulu di dalam kulkas. Rasanya tidak terlalu manis dan gak bikin eneg, asalkan dimakan pada saat belum terlalu kuning. Well, sebenarnya tergantung selera juga, ini gambar tentang pedoman warna pisang cavendish gua ambil kemarin di carefour lebak bulus.

he? gak jelas ya? ini keterangannya disalin dari gambar:
1. warna hijau segar dari perkebunan
2. hijau berwarna terang perubahan awal warna dalam proses pematangan
3. hijau semburat kuning siap diambil toko/ideal untuk dikirim ke toko
4. kuning semburat hijau bagus untuk dipajang (?)
5. kuning dengan kedua ujung hijau siap dikonsumsi
6. kuning seluruhnya enak untuk dimakan
7. kuning sedikit bintik cokelat aroma & rasa yang manis dengan kandungan gizi terbaik

Ada juga pisang yang jarang dijadikan makanan manusia. Contoh nya pisang batu, yang makan cuma burung beo. Sebenarnya pisang yang tergolong jenis seperti ini (pisang kepok, pisang siam, pisang tanduk, dll) bisa saja dimakan oleh manusia, tapi biasanya setelah digoreng, direbus, dibakar, dikolak dan diproses lainnya. In my humble opinion, pisang paling enak adalah pisang yang dikonsumsi secara segar, tanpa diolah dulu. Pisang segar mempunyai kadar gizi yang paling bagus, tidak mengalami proses pengolahan makanan yang justru kadang mengurangi kadar gizi.

Selain memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Ini tentu saja sangat membantu gua sebagai seorang atlet (wannabe). Ketika sedang seru2 nya main tennis, nafsu main masih gede, tenaga udah abis, pisang bisa jadi sumber tenaga tanpa bikin badan jadi begah kekenyangan. Pemain profesional pun begitu. Lihatlah betapa cantik nya mbak sharapova mengulum pisang di tengah2 break antar game. Atau di saat berenang, target total lintasan 2 km per sesi demi mengurangi lemak2 di pinggang susah rasanya tanpa bantuan ekstra tenaga dari pisang. Termasuk ketika otak mengalami keletihan di tempat kerja. Pisang sangat bermanfaat untuk ini.

Kalau mau bicara tentang pisang tak ada habis nya.
Tak cukup lah rasanya curi-curi jam kerja seperti ini untuk menulis semua manfaat dari pisang (plus bertentangan juga dengan postingan sebelum ini tentang bekerja dengan sebaik2nya).
Jadi ini list manfaat dari pisang secara singkat yang gua kumpulkan:
- pisang daun nya bisa dipakai sebagi pembungkus nasi padang, manambah raso, pambangkik salero
- pisang kulitnya bisa buat alat bantu untuk film komedi slapstick (adegan kepleset kulit pisang, hei oom Dono Kasino Indro, miss you guys)
- pisang untuk kecantikan, oles kulit pisang 3 kali sehari setelah mandi
- pisang mengurangi berat badan (jika dimakan terus menerus tanpa variasi lain, pisang thok, cukup 3 bulan)
- pisang membantu mengatasi stres, depresi, anemia
- pisang membantu memperbaiki mood pas lagi PMS
- pisang membantu orang yg berusaha berhenti merokok
- pisang menyembuhkan ‘luka’ gigitan nyamuk (usap bagian dalem kulit pisang langsung ke daerah gigitan nyamuk)
- pisang keramat, bahan sajen
- pisang alat sosialisasi (dengan monyet)
- pisang alat bantu kenalan ama cewe (neng, punya pisang? … nggak? kalo nomer telpon punya?)
- pisang mencegah korupsi
- pisang bahan bakar alternatif pengganti bensin,
- pisang mencegah global warming
- pisang mencegah perceraian di dunia artis
- pisang mencegah kehamilan, sebagai alat KB, fiesta rasa pisang
- pisang alat bantu di film bokep,
(the last 4 or 5 are lies, damn lies)

But I tell you something real. Sebagai sebuah buah, sudah jauh melampaui kodratnya sebagai bahan makanan. Aplikasi konsep pisang telah melebar ke berbagai bidang.
1. olahraga
- flying banana & banana boat: olahraga rekreasi yang mesti dilakukan di bali
- the famous tendangan pisang, by om David Beckham

2. entertainment
Bananaman, a superhero like superman, spiderman and batman. I am not kidding. It really did exist back then in 80’s. Just wait for the movie.
Wiki

3. politik
Partai Pisang Bangsa
(another damn lie)

Begitulah pisang. Enak rasanya, banyak manfaatnya. But I am not interested to be involved in banana business any further.
Gua lebih bercita-cita suatu hari bisa menjadi pengusaha mangga muda, yang bisa kerjsa sambil golek-golek, punya kebun mangga di Indramayu, dan ber-istri-kan penjual mangga yang arum dan manis.

My Life, My Love dan My journey8 July 2008 2:44 pm

Dan katakanlah (hai Muhammad), “Hendaklah kamu bekerja! Allah, RasulNya dan orang mukmin akan melihat (hasil) kerjamu (itu). Nanti kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang lahir, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang kamu kerjakan.” (At Taubah 105)

[crap]
Karatau madang di hulu babuah babungo alun, marantau bujang dahulu dek di rumah paguno alun.
(Keratau medang di hulu berbuah berbunga belum, merantau bujang dahulu karena di rumah belum berguna)
Begitu kata orang minang, berharap anak-anak nya bisa jadi khalifah di bumi. Menjadi orang yang lebih baik selaras dengan menjadikan dunia yang ditinggali nya menjadi lebih baik juga.
Bertahun-tahun gw ninggalin rumah gua kira gua udah bisa berguna. Well, let’s see. Walopun gua udah gak nungguin kiriman dari bapak gua lagi, tapi gua bisa apa? Nothing. Gua cuma bisa ngoceh nyumpahin orang2 tiap kali denger berita orang-orang demo, kerusuhan, korupsi, Punjabi bersaudara merusak lewat sinetron, anggota DPR plintat plintut, dan segala macam berita (buruk) lain yang semua nya dengan datar ditulis di detik.com

Renungan malam gua kali ini membawa gua mengingat seorang kawan yang melakukan jihad dengan cara nya. Jihad bagi dia adalah bekerja dengan baik dan tidak meninggalkan kewajiban kepada Tuhan dan keluarga nya.
Bukan jihad dengan pukul-pukulan, bawa bambu, teriak2 mengkafirkan orang merasa paling suci dan benar, lengkap dengan jenggot dan kostum gamis.
Well he is one of the best in telecommunication world now whilst still be able to spend some of his time di forum2 dan khutbah jumat dengan bacaan yang fasih dan pengetahuan Quran dan hadis sahih. Pembicaraan dengan dia selalu menarik sehingga gua yakin kalau dia jadi khatib jumatan gua yakin gak akan tidur.

Senang rasanya punya orang yang bisa kita look up to, orang dengan karir cemerlang juga dengan kehidupan pribadi yang mantap. Well everbody has their own problem so does him. Tapi se tidak nya dia bisa jadi orang yang berguna di bidang pekerjaan dia.

Karena itu penulis berwasiat kepada diri penulis sendiri untuk segera bekerja dengan sebenar2 bekerja supaya tak menjadi lontong sayur, basi, lalu jadi sampah.
[/crap]

My Life, My Love dan My journey25 June 2008 6:54 am

I am really against slavery. I don’t like people looking down to others, as well as the other way around. We don’t need to look up the other people too much. That is really unnecessary.
Some people do deserve some respects, but it doesn’t make they have more power on you. We are living in democracy, we do have our rights we must pay our dues. Each of us has different role in this life.

Speaking of slavery, I used to see the concept of ball-boy in tennis game as one of the “veiled” slavery. In every tennis match there are group of people whose task is to collect the ball after a point is won. They run as fast as they could to catch the loose ball, then go back to their position, in the corner of the court, stay unseen of the fancy camera. Unlike the linesmen who wear fine clothing even sometimes a complete suit, usually ball-boys wear a simple sport uniform to ease themselves in running back and fort collecting the ball. That is so uncool.
Another task of a ball-boy is to keep a towel for the player as the player want to sweep his sweat. The ball-boy will again run towards the player as the player give a sign that they want to sweep his sweat over his face. And the player doesn’t even look at the ball-boy’s face when he returns the towel. I think this just disgraces the spirit of sportsmanship in tennis. What a menial job, right?

Until I see the great Roger Federer in one of his final in his hometown, Basel (sorry I forget the event, it was a recorded match) against a good friend of him (sorry I also forget name, I am really bad with names :-D ). At the end of the match he was being interviewed by Georgina Chang from Star Sport (I remember her name, this girl has one of the best job in the world, lucky b*#ch). Federer mentioned remembering his time with this good friend while they were still a ball boy, hoping someday will be able to play at the same level the game they were taking care of. He said it was one of the greatest moment of his life being a ball-boy, and now another great moment of his life: winning a match against a great ball-boy mate. Ball-boys are playing their role to make everybody happy. He said he wanted to share the moment with all the ball-boys.
“Definitely pizza for ball-boys after this” as he said.

A small act of him making good impact. And he truly changed my point of view of a ball-boy. Although the ball-boy seems to be unnoticed in the game, they still play a very important role. It is just about how we see them and it’s our choice as player about how to treat them.

Always treat people with dignity.
That is the quality you must have.

My Life, My Love dan My journey9 June 2008 6:27 am

Nadal trashed Federer to win fourth consecutive French open title this week. And it was also Federer’s fourth consecutive loss to him in the same tournament since 2005.
Both player did very well, but in the end there was only one man, Nadal, who seized the day.

Is it the end of the FedEx era?
The aura of invincibility of Federer has truly left him. The “unstoppable” has gone as well. It is also said that his number one crown will soon be handed over to Nadal. But I confront that.

Heck I am a fan of Nadal’s brutality, but Federer is not over yet. The clay court season is over. Nadal is the king of clay, but who can beat Federer in grass court? The 5 times Wimbledon champion will back in action. And not even Nadal can stop him easily like in clay court.
With all due respect to all other competitors, I am thrilled at the prospect of these two meeting again in Wimbledon final. To see how the great mutual respect and sportsmanship will be shown by both.

These 2 guys are at their best.
Let’s give them their due.

My Life, My Love dan My journey30 May 2008 10:57 am

Check out my new minicity.

http://bedeng.myminicity.com/

Here you can create your own own. The town grows the more people that visit
:-D

My Life, My Love dan My journey27 May 2008 11:22 am

Hey kamu,
apa kabar?
Sudah baca buku itu?
Aneh ya!?
kadang aku merasa kita seperti itu
padahal penulis buku itu tidak kenal kita
tentu saja
apalagi khusus menulis tentang kita
aku rasa tidak
apa semua orang begitu
padahal sebenarnya
dia menulis tentang dirinya sendiri

kalau memang benar begitu
berarti kita akan baik-baik saja
tapi aku rasa tidak
mari kita bicara
kamu beritahu aku
aku terlalu bodoh untuk mengerti

My Life, My Love dan My journey 11:20 am

Harga BBM sudah naik. Demonstrasi dimana-mana.
Jadi sedih dan kasihan karena demo nya pake kekerasan.
Semoga orang-orang yang demo dengan kekerasan itu sudah tahu bahwa polisi yang mereka lempari itu akan sama saja menderitanya dengan mereka saat harga BBM naik.
sigh…

My Life, My Love dan My journey12 May 2008 2:30 am

Satu hal yang gua suka dari weekend adalah jalan raya gak rame bego macet dimana-mana. Minggu pagi gua diundang main tennis di Gran Melia, dari rumah ke sana cuma 15 menit karena jalan sepi. Gak banyak bus dan metromini goblok yang suka brenti seenak nya, gak ada om-om kantoran naek motor yang suka klakson sana sini trus nyerobot lewat trotoar, tapi sayangnya gak ada mbak-mbak kantoran yang wangi dan lucu-lucu yang biasanya banyak berseliweran :-D

Satu hal yang banyak gua liat di hari minggu pagi adalah orang bersepeda. Apalagi pas lewat sekitar Senayan. Gua mati-matian menahan mupeng melihat rangka soft tail Kona hitam dengan set gear Shimano XTR terbaru yang lewat di sebelah gua. Modelnya pas dengan selera gua, simple but sophisticated.

Dari dulu gua adalah penggemar sepeda. Sejak pertama kali gua dibeliin sepeda sama papa waktu masih SD. Gua masih punya memori tentang dulu pertama kali belajar naik sepeda roda dua. Gua ngikut main sama abang gua, as always. kalo lu jadi anak kedua dan punya abang yang punya jiwa pemimpin, lu mestinya ngerasain gimana rasanya jadi pengikut setia. Kemanapun abang gua pergi, apapun yang di mainin, gua selalu jadi sidekick nya dia. Seperti batman dan robin. Dan entah kenapa gua tetap bangga dengan peran gua sebagai sidekick abang gua.

Oke, sepeda beneran gua yang pertama adalah MTB Federal warna merah ngejreng. Dibeliin pas gua udah pindah ke Padang. Hmm, sebenarnya bukan sepeda gua, tapi mesti gua share sama abang gua. Inilah awal awal saat dimana gua mulai main sendiri gak selalu bareng abang gua. Sepeda cuma satu, mana bisa pergi main barengan. Setelah beberapa konflik kecil rebutan main sepeda akhirnya papa gua beliin satu lagi MTB merk Genio warna hijau. Gak sebagus Federal merah yang langsung diklaim abang gua jadi punya dia. Sumpah kalau gua udah ngerti gimana kondisi keuangan papa mama gua waktu itu gua gak akan minta dibeliin sepeda itu.

Sejak punya sepeda hijau itu, segala medan persepedaan gua tempuh, jauh-dekat, naik-turun, hampir seluruh kota Padang sudah gua jelajahi dengan sepeda hijau gua. Tapi level nya masih cupu… paling banyak lewat jalan raya, atau jalan kampung, gua belum kenal track outbond semacam puncrut, lembang, dkk. Masih belum tau tips and tricks bersepeda.
Masa SMA gua suram, tanpa sepeda. Nuff said.

Nah, pas kuliah di bandung, dunia persepedaan gua meningkat pesat. Bermodalkan sepeda rakitan, rangka batang hard tail Big Cat, Shimano Deore, dll, menurut gua waktu itu spec nya udah cukup, tinggal tambah cakram depan belakang juga gua udah puas. Tapi sayangnya gua lebih milih ngabisin duit gua buat beli buku An Introduction to Analog and Digital Communincation, mouse-pad paling mahal gua sampai saat ini.
Dengan sepeda itu hampir setiap minggu pagi gua ke lembang, turun downhill di puncrut, atau naek lewat taman hutan Bung Hatta, turun lewat jalan raya di lembang. Benar-benar bersepeda!
Dan karena sepeda itu juga gua cedera, lutut gua geser! Akibatnya gua gak bisa tennis dan tentu saja gak bisa sepeda. Selama 2 bulan lebih olahraga gua cuma berenang kayak orang sakit asma. Pyuh!. Setelah lutut gua normal lagi persepedaan gua berlanjut sampai saat suatu “hari itu”, sepeda gua hilang.

Trus sekarang bagaimanakah persepedaan gua? Nol besar…
Ini lah yang sekarang sedang gua pikirkan secara keras. Haruskah gua mulai lagi? Berbagai pertimbangan melarang gua untuk bersepeda lagi. Termasuk ntar apa kata mama gua: “buat apa sih beli sepeda? kayak anak2 aja! mending duitnya dipake untuk yang bermanfaat”
Selain itu gua sendiri juga mikir, kalau misalnya gua punya sepeda ntar kapan gua make nya ya? Gua bakal bingung ngatur jadwal sepeda, tennis dan berenang, dan kalau ada ajakan futsal. Gelo, lebih pusing daripada mikirin kerjaan nginterkoneksi Ericsson-Huawei mikirnya. ahaha…

Summary analisis SWOT gua terhadap project pengadaan sepeda:
Strength: Enthusiasm, energy, imagination, expertise dalam persepedaan, dukungan finansial lebih baik dibanding saat masih mahasiswa
Weakness: tak punya waktu untuk pakai sepeda nya, masih mempertimbangkan bahwa sepeda is just a waste of money
Oportunity: udah punya beberapa kenalan orang klub sepeda yang bisa rekomendasi toko2 termurah
Threat: tak didukung oleh keluarga

Jadi gimana nih? Haruskah gua mewujudkan mimpi-mimpi basah gua punya sepeda keren?

My Life, My Love dan My journey8 April 2008 10:00 am

Q. Why you should never fall in love with a tennis player?
A. To them ‘Love’ means nothing.

The origin of the use of “love” for zero is also disputed; it is possible that it derives from the French word for an egg (l‘oeuf) because an egg looks like the number zero. “Love” is also said to possibly derive from “l’heure” or “the hour” in French. When stating the score, the server’s score is stated first. If the server (or the umpire) announces the score as “thirty-love,” for example, it means that the server has won two points and the receiver none.
Taken from Wikipedia

Maybe I should stop playing tennis…
:-(

My Life, My Love dan My journey4 April 2008 10:34 am

Wahai tennis lover,
This is how you can rate the level of your play, based on United States Tennis Association system.

To place yourself:

A. Begin with 1.5. Read all categories carefully and then decide which one best describes your present ability level. Be certain that you qualify on all points of all preceding levels as well as those in the level you choose.
B. When rating yourself assume you are playing against a player of the same gender and the same ability.

General Characteristics of Various NTRP Playing Levels

1.5
You have limited experience and are working primarily on getting the ball in play.

2.0
You lack court experience and your strokes need developing. You are familiar with the basic positions for singles and doubles play.

2.5
You are learning to judge where the ball is going, although your court coverage is limited. You can sustain a short rally of slow pace with other players of the same ability.

3.0
You are fairly consistent when hitting medium-paced shots, but are not comfortable with all strokes and lack execution when trying for directional control, depth, or power. Your most common doubles formation is one-up, one-back.

3.5
You have achieved improved stroke dependability with directional control on moderate shots, but need to develop depth and variety. You exhibit more aggressive net play, have improved court coverage and are developing teamwork in doubles.

4.0
You have dependable strokes, including directional control and depth on both forehand and backhand sides on moderate-paced shots. You can use lobs, overheads, approach shots and volleys with some success and occasionally force errors when serving. Rallies may be lost due to impatience. Teamwork in doubles is evident.

4.5
You have developed your use of power and spin and can handle pace. You have sound footwork, can control depth of shots, and attempt to vary game plan according to your opponents. You can hit first serves with power and accuracy and place the second serve. You tend to overhit on difficult shots. Aggressive net play is common in doubles.

5.0
You have good shot anticipation and frequently have an outstanding shot or attribute around which a game may be structured. You can regularly hit winners or force errors off of short balls and can put away volleys. You can successfully execute lobs, drop shots, half volleys, overhead smashes, and have good depth and spin on most second serves.

5.5
You have mastered power and/or consistency as a major weapon. You can vary strategies and styles of play in a competitive situation and hit dependable shots in a stress situation.

6.0 to 7.0
You have had intensive training for national tournament competition at the junior and collegiate levels and have obtained a sectional and/or national ranking.

7.0
You are a world-class player.

So where are you?

:-) I am somewhere between 6-7
nah.. just kidding